Anak-anak Millennial dan Masa Depan Buku

Buku memang luar biasa. Satu di antara sekian banyak penemuan yang mengubah peradaban, buku adalah salah satunya.

Mula-mula adalah bahasa, lalu simbol dan tulisan. Selama beberapa abad kita menggunakan benda-benda yang ada di alam sebagai media tulis, ‘buku’ pada zamannya. Orang-orang Nusantara menggunakan batu, bangsa Mesir menggunakan papirus, bangsa Cina menggunakan bambu.

Baca juga:
Bisik-bisik Tetangga dan Industri Hoax di Zaman Milenial
Toko Online dan Harga Diskonnya Bikin Setan Jobless

Saya lupa bangsa apa yang pertama kali menyatukan media-media tulis itu menjadi buku. Tapi, saya dengar bangsa Cina adalah yang pertama menggunakan serat bambu sebagai bahan baku kertas. Sementara bangsa Arab berjasa dalam menyederhanakan buku menjadi segiempat. Entah seperti apa bentuk buku sebelumnya.

Sejak kecil kita dididik untuk gemar dengan buku. “Buku adalah jendela dunia”, begitu jargonnya. Padahal, nggak semua anak punya minat baca yang tinggi. Dan kalau kita mau mengakui, minat baca yang tinggi pun nggak selalu relevan dengan masa depan seseorang, sebut saja dalam pekerjaannya.

Tentu minat baca tetap bermanfaat bagi pekerja tambang, pilot, atau importir barang second. Tapi, kita tentu bisa membedakan, apakah itu menjadi bagian utama dari pekerjaan mereka atau bukan. Bagaimanapun, minat baca yang tinggi lebih relevan bagi seorang akademisi, penulis, editor, atau beberapa pekerjaan lainnya.

kindle-381242_960_720
Sumber foto: pixabay.com

Saya sendiri suka membaca, meski itu nggak lagi berhubungan dengan ujian, sebagaimana dulu saat masih kuliah. Dan kebetulan, pekerjaan saya nggak jauh-jauh dari buku. Bukan pekerjaan idaman banyak orang sebagaimana PNS, tapi saya bersyukur bisa sangat menikmatinya.

Buku-buku keislaman adalah minat terbesar saya, dan hampir tujuh tahun ini penerbit tempat saya bekerja menerbitkan buku-buku kategori itu. Sebuah kebetulan. Orang-orang suka menyamakan penerbit dengan percetakan. Bagi saya, itu bukan masalah besar. Nggak ada bedanya juga orang-orang menyamakan atau membedakannya.

Saya sepertinya terlalu lama bertele-tele. Sampai paragraf ini pun belum juga menyinggung apa yang sedang saya pikirkan. Hehe…

Sudah lama teman-teman kantor saya kepikiran, sekarang zamannya orang membaca segala sesuatu melalui gadget mereka. Mulai berita, buku, Al-Qur’an, bahkan masa depan. Kira-kira apa yang terjadi pada buku sepuluh atau dua puluh tahun dari sekarang? Apakah akan bernasib sama dengan radio dan koran?

Beberapa tahun belakangan, seiring berkembangnya teknologi informasi, beberapa orang mulai meninggalkan buku. Media online dan game menawarkan sesuatu yang jauh lebih menarik dan, terutama bagi generasi millennial, asyik. Pelan tapi pasti, buku seperti memasuki suatu masa ketika ia tak lebih dari sebuah kenangan.

Saya nggak tahu, apakah ini tahun-tahun terakhir benda yang pernah sangat revolusioner itu menjadi bagian dari kehidupan kita. Kalau ingat abad-abad perjalanan sejarah buku, dari sebelumnya yang hanya olahan serat kayu menjadi bentuk yang sekarang kita kenal, ada rasa sayang jika kemudian harus meninggalkannya.

Seperti kehilangan sosok yang selama ini kita kagumi, atau sosok yang selama ini sangat dekat dengan kita. Kita tumbuh dengannya, belajar hidup dengannya, bahkan berani bercita-cita karenanya. Rasa-rasanya akan ada yang hilang dari diri kita jika buku kita ganti dengan sesuatu yang lebih canggih dan serba otomatis.

Ebook mungkin bisa menahan kemerosotan minat orang terhadap buku. Tapi, berapa perbandingan antara penggemar ebook dibandingkan media sosial dan game? Perkiraan saya, anak-anak muda sekarang, yang disebut sebagai penghuni tetap dunia maya (angkatan 90-an adalah ‘pendatang’), lebih gandrung dengan yang kedua.

Kalaupun ada yang masih suka membaca, paling-paling itu tulisan bombastis, yang kontennya kalau bukan gosip ya hoax. Kalau boleh sekalian curhat, saya sebenarnya heran, kok bisa orang-orang yang pernah mengenyam perguruan tinggi, bahkan di kampus ternama, percaya buta terhadap orang-orang seperti Jonru dan Saracen?

Alah, itu masalah lain!

Ada banyak hal yang bisa membalik situasi yang tak menentu ini, tapi kali ini saya berhak untuk bersikap pesimis. Sometimes you will reclaim your strength when you stop pushing yourself to be optimistic, especially when you know that you can do nothing with the situation, something beyond your control. Let’s call it being realistic.

Advertisements

Bisik-bisik Tetangga dan Industri Hoax di Zaman Millennial

Kita kadang lebih suka membicarakan orang lain ketimbang membahas diri sendiri. Seolah ada saja dalam diri orang lain itu bahan untuk dibahas, sesuatu yang menarik, baru, dan hangat, entah dalam pengertian yang positif atau negatif.

Baca juga:
Persepsi yang Keliru Bisa Bikin Runyam Hidup Kita
Apa Sih Tujuan Sebenarnya Kita Menggunakan Social Media?
Kebiasaan Lama dan Sebuah Cerita tentang Kasur di Rumah Saya

Mulai wajah mereka yang judes, ucapan mereka yang sinis, tatapan mereka yang penuh curiga, pendapat mereka yang absurd, atau kebiasaan mereka yang konyol. Sesekali kita membicarakan hal-hal baik dalam diri mereka, tapi biasanya itu nggak berlangsung lama.

Kita lebih betah bisik-bisik tentang sesuatu yang sumir dan sensitif.

Sewaktu ada tetangga di kampung saya yang melahirkan bayinya tujuh bulan setelah hari pernikahannya, beberapa tetangga yang lain berkerumun di depan warung sambil membincangkannya. Kebingungan mereka? Baru tujuh bulan kok udah lahiran?

Ketika seorang teman membatalkan rencana pernikahannya, teman-teman yang lain juga saling berbisik, baik dengan cara tatap muka maupun saling berkirim pesan. Kenapa dibatalin? Yang cowok ketahuan selingkuh ya? Orangtua ceweknya belakangan nggak setuju ya?

pug-1209129_960_720
Sumber foto: pixabay.com

Beberapa waktu yang lalu saat pulang kampung, di dalam kereta jurusan Madiun-Malang, dua orang ibu-ibu berbincang tentang sepasang pengantin yang nggak melengkapi prosesi pernikahannya dengan tahap tertentu (saya lupa namanya) sebagaimana adat pernikahan di Indonesia.

Padahal, pernikahan itu konon adalah momen yang paling diidamkan orang sekaligus yang paling banyak membuat mereka patah hati. Sebagian orang sampai-sampai menyebutnya ‘Hari Patah Hati Nasional’. Pernikahan siapa lagi kalau bukan pernikahan Raisa-Hamish Daud.

Bayangkan, momen membahagiakan seperti itu, yang orang-orang di dalamnya (terutama pengantinnya) sama sekali nggak punya kepentingan dengan kita, masih juga kita nyinyiri. Hal-hal positif di dalamnya seolah terlewatkan oleh mata kita dan menyisakan kekurangan-kekurangannya saja.

Mungkin benar kata pepatah, “gajah di pelupuk mata tak tampak, semut di seberang lautan terlihat”. Mata kita seperti punya ketajaman mata elang ketika sedang membahas kekurangan orang lain, dan tiba-tiba rabun dekat ketika ingin mengoreksi diri sendiri.

Mungkin ini juga disebabkan oleh musuh terbesar kita, yang kekuatannya nggak bisa dibandingkan dengan aib atau cela dalam diri orang lain, atau jarak yang membentang antara kehidupan kita dan mereka. Guru-guru sufi menyebutnya ego, atau nafsu.

Egolah yang bertanggung jawab mengapa kita selama ini selalu punya waktu untuk berbisik-bisik tentang orang lain. Ibarat kapal yang mau tenggelam atau pesawat yang terguncang hebat karena turbulensi, kita tetap asyik berbincang tentang aib tetangga, teman, saudara, bahkan bintang film.

Kita menguliti kehidupan pribadi mereka dan menelanjanginya sampai tanpa sisa. Di sana-sini kita menambahkan opini yang teramat jauh jaraknya dengan kebenaran. Lalu sambil berbangga diri, kita menyebarkan opini-opini itu kepada orang lain, menjelma bola salju yang isinya fitnah belaka.

Sebagian orang sampai membuat kegiatan ini sebagai program tivi, mempertontonkannya, menarik pemirsa setia, dan mendapatkan uang darinya. Untuk mereka yang masih belum selesai terkejut dengan semua ini, selamat datang di zaman milenial, zaman yang dibangga-banggakan orang karena internet, wifi, media sosial, dan hoax-nya.

Dengan kemajuan teknologi itu, di samping otak-otak tertutup dan fanatisme buta orang-orang yang sok ngerti pulitik dan agama, kita berhasil meningkatkan nilai kebohongan, yang sebelumnya menjijikkan dan nggak berharga, menjadi sesuatu yang bisa menghasilkan uang.

 

Buat Apa Sibuk Mengartikan Cinta?

Kalau semua harus rasional, mungkin nggak ada yang namanya cinta di dunia ini. Dan kalau nggak ada cinta di dunia ini, pasti sudah sejak lama kita, manusia, punah.

Kita kadang ingin semuanya rasional, dan mengkritik pendapat atau sikap seorang teman yang kita anggap nggak masuk akal. Celakanya, kritik itu sekaligus cibiran untuk mereka.

Kita mengira dunia dan isinya pasti lebih baik kalau tunduk pada akal. Seolah-olah agar kehidupan kita tak menyerupai binatang, semua harus diatur menggunakan rasio.

Kita kadang melangkah lebih jauh. Nggak tanggung-tanggung, Tuhan pun kita rasionalisasikan, dengan ijtihad dan penafsiran. Bayangkan, betapa sombong dan pongahnya kita.

Apa benar, kita nggak bisa menerima keberadaan dan kehadiran-Nya tanpa memahami-Nya terlebih dulu? Dan untuk tujuan itu, kita lantas merasa wajib menafsirkan diri-Nya?

Ayolah… Benarkah semua yang kita lakukan selama ini udah rasional? Sampai-sampai kita menuntut agar segala yang ada di dunia ini rasional, termasuk Tuhan?

Bagaimana dengan cinta? Ada banyak buku dan cerita yang menjelaskan tentangnya. Dan hampir semua tak bisa mengartikannya secara penuh dan sama. Semua seperti potongan-potongan terserak dengan beragam versi.

Orang yang bijak mungkin menganjurkan kita agar tak menghabiskan waktu untuk mengartikan atau menafsirkan cinta. Buat apa? Cukup kita alami saja.

Kita setuju, dan sejak saat itu kita meninggalkan debat kusir tentangnya. Kita lalu jatuh cinta dengan seseorang, kecewa, cemburu, memaafkan, dan sibuk membahagiakannya.

Kita lupa apa arti cinta dan bagaimana sudut pandang rasional kita dalam memahaminya.

Dan kita baik-baik saja…

Persepsi yang Keliru Bisa Bikin Runyam Hidup Kita

Bicara pun harus dilatih. Apalagi sekarang, ketika imej seseorang bisa terbentuk dari cara bicaranya. Tanpa kemampuan bicara yang baik, orang gampang disalahpahami.

Ya meskipun imej kadang-kadang nggak menunjukkan watak asli seseorang sih.

Pak Mario misalnya. Bukan maksud saya ngeledek nih. Tapi selama bertahun-tahun, orang Indonesia kan mengenal beliau sebagai bapak yang kalem dan bijaksana.

Aa Gym juga. Tutur katanya lembut dan pembawaannya tenang. Kalau sedang ceramah sambil didampingi Teh Ninih, gambaran keluarga surgawi ada di depan mata kita.

Sampai masalah menerpa hidup dan merusak imej mereka.

Tapi, bicara juga perlu natural sih ya, nggak dibuat-buat. Kalau cara bicara kita dibuat-buat, imej yang terlihat bisa liar: ganjil, maksa, nggak jujur, menutupi sesuatu, bahkan kekanak-kanakan.

Wah, runyam ya kalau belum apa-apa orang udah salah persepsi sama kita. Maksud hati ingin mengakrabi, dia malah ngira kita punya niat jahat. Baru dideketin udah teriak minta tolong.

Kalau boleh memilih, mending kita jadi diri sendiri. Apa adanya. Nggak jaim-jaiman. Capek lho menjadi orang lain itu. Nggak bebas dan mungkin bisa menambah beban mental.

Ya memang benar, kita harus jadi diri sendiri. Itu sebabnya, kita perlu latihan. Agar apa yang terbaik itu menyatu dengan diri kita. Soalnya kalau nggak gitu, kita ya seterusnya akan begini-begini aja. Atau kalau tiba-tiba berubah, kita seperti menjadi orang lain. Nggak natural deh.

Toko Online dan Harga Diskonnya Bikin Setan Jobless

Nggak ada habisnya ya kalau kita ikutin terus ego dan keinginan-keinginan. Seperti minum air laut. Bukan hausnya yang hilang, kitanya malah yang makin haus. Alhasil, sampai perut kembung pun kita masih ingin meminumnya.

Apalagi seperti sekarang, ketika semuanya serba gampang. Dulu, yang namanya godaan adanya ya di pasar atau jalan-jalan. Sekarang semua itu ada di dalam rumah kita. Di tivi, laptop, dan gawai kita. Hidup kita jadi kayak kebanjiran godaan.

Bisa nggak tergoda sama iklan yang satu bukan berarti nggak tergoda sama iklan yang lain. Bahkan nggak sanggup bayar harga sebuah barang bukan berarti pintu tertutup begitu aja. Ada kartu kredit bahkan diskon berlipat-lipat yang sungguh sayang diabaikan.

Kalau dulu ta’awudz dibaca buat ngusir makhluk halus atau bisikan syaiton, sekarang mungkin lebih relevan dibaca untuk membentengi diri dari program promo yang dibikin mall-mall sialan itu, yang tiap awal bulan ngiming-ngimingi barang bagus berharga murah itu lho.

Kampret tenan kok pancen. Yang kayak gitu itu yang bikin syaiton jobless, nganggur, nggak punya kerjaan. Diserobot sama toko online, Google Ads, dan buzzer. Manusianya sama aja, banyak malah yang nggak digoda udah tergoda dengan sendirinya.

Ini kalau Nabi Adam sampai tahu, betapa malunya beliau sama Allah Taala. Dulu beliau terusir dari surga karena godaan iblis, belakangan anak-cucunya durhaka karena godaan wanita, sekarang cucu dari anak-cucunya tergoda karena diskon murah di toko online.

Mentalnya makin lama bukannya makin kuat, malah makin cemen. Ya termasuk orang-orang kayak saya ini.

Masih Ingin Berkunjung ke Masa Lalu?

Orang-orang selalu mengaitkan hujan dengan kenangan. Kenangan tentang kekasih, mantan, orangtua yang sudah berpulang, atau sahabat. Saya juga begitu. Tapi, yang paling sering saya kenang adalah diri saya sendiri, di masa lalu.

Baca juga:
Berkunjung ke Masa Lalu
Seandainya Kita Bisa Kembali Menjadi Anak-anak

Ada saat-saat saya merindukan diri saya yang dulu. Saat masih ngaji di pesantren dan lebih-lebih saat berjibaku dengan kuliah. Saat saya mengulang-ulang membaca kitab yang diajarkan bakda shalat atau sendirian menyelesaikan tugas makalah sampai larut malam.

Saya pernah membayangkan, betapa menyenangkannya andai bisa berkunjung ke masa lalu, seperti dalam film About Time. Kita bisa memuaskan diri mengunjungi gedung-gedung, jalan, gunung, pantai, dan pasar. Menyapa ibu dan bapak yang telah tiada, sahabat yang setia mendengarkan keluh kesah, juga mereka yang pernah memiliki tempat di hati kita.

musicians-2072922_960_720
Sumber foto: pixabay.com

Kita bisa bepergian ke masa kapan pun kita mau. Kita bisa melompat ke zaman ketika kakek atau nenek kita baru mengenal yang namanya radio, atau ke masa ketika ibu bapak kita baru berkenalan. Kita menyaksikan dari dekat orang-orang kesayangan, dan secara sembunyi-sembunyi mengawasi gerak-gerik mereka.

Namun, saya berpikir ulang. Sesuatu yang menarik dan bernilai biasanya adalah sesuatu yang tak ada duanya, sulit atau malah mustahil didapatkan. Banyak cerita tentang raja-raja yang mau memberikan imbalan apa saja bagi siapa pun yang bisa menemukan air kehidupan, yang konon bisa membuat orang yang meminumnya hidup selamanya.

Air kehidupan seperti itu tentu tak pernah ada. Tapi, dari cerita-cerita itu minimal kita tahu betapa berharganya sesuatu yang sulit atau mustahil untuk didapatkan. Seperti benda-benda yang menjadi legenda itu, yang lama-lama dilupakan, masa lalu mungkin sebaiknya dibiarkan berlalu.

Seandainya kita benar-benar bisa mengunjunginya, itu bisa-bisa justru membuatnya tak lagi berharga.

 

 

5 Hal Menjengkelkan Tapi Memorable Saat Berada di Masjid

Belakangan ini orang-orang semakin bergairah belajar agama.

Ada yang semakin rajin ke masjid, ada yang nggak pernah absen pengajian, ada yang sehabis shalat Subuh langsung nyetel tivi demi menyaksikan ustadz seleb kesayangannya. Kalau yang muda-muda biasanya streaming, nonton ustadz yang lagi ngehits di Youtube.

Semuanya positif. Nggak percuma kyai-kyai dan ulama menumbuhkan rasa cinta masyarakat terhadap agamanya. Nggak main-main juga usaha mereka dalam meregenerasi para pendakwah. Ya kalau ada ustadz selip lidah atau suka berkata kasar, itu cuma sedikit kok dibanding ustadz-ustadz yang bermutu.

Baca juga:
Tawakal Itu Obat Antistress Paling Murah
Radio, Gadget, & Pesantren yang Sedang Berubah

Ngomong-ngomong soal umat Islam yang lagi semangat belajar agama, yang banyak kegiatan keagamaan mereka diadakan di masjid (atau musala), ada lho ternyata hal-hal menarik yang bisa kita temukan di sana. Kali ini, bagaimana kalau kita mulai dari hal-hal yang menjengkelkan tapi sangat memorable (terkenang), yang seiring berlalunya waktu justru menjadi bahan cerita bahkan guyonan kita? Apa saja?

1. Bacaan imamnya nggak fasih

Ini dilema. Kalau kita ikut jamaah, apalagi kalau ambil tempat di barisan pertama, eh ternyata bacaan imamnya nggak karu-karuan, kita pasti bete.

Dal, dzal, zha, dan za disamain, tsa’, sin, syin, dan shad nggak ada bedanya, panjang-pendek bacaannya nggak jelas, atau urutan ayatnya kebolak-balik (!).

Mau lanjut ikut jamaah, kita tahu bacaan imamnya bikin shalat nggak sah. Mau mufaraqah (keluar dari jamaah), kita nggak jadi dapat keutamaan shalat berjamaah.

Tapi, apa boleh buat, daripada ngulang shalat, lebih baik ya mufaraqah. Kelihatannya aja jamaah, padahal pahala yang dicatat malaikat cuma satu, itu pun kalau nggak hangus gara-gara sepanjang shalat kita mencari-cari kesalahan imam.

2. Jamaah di sebelah kita bau

Ini absolut deh akibatnya. Bayangan bahwa shalat itu menenangkan hati apalagi mencegah kita dari fakhsya’ dan munkar buyar seketika. Apalagi kalau aroma tak sedap itu menguar hebat dari berbagai sumber: ya mulut, ya ketek, ya kaki. Hoek!

Bukan saya sok-sok wangi nih ya. Tapi, yang namanya ngadep Allah Taala itu kan mestinya pakai etika, dan di antara etika itu ya menjaga bau badan.

Makanya, Rasulullah menyuruh kita pakai parfum dan siwak kalau mau shalat. Kalau mau ketemu gebetan, bokapnya calon, Pak Lurah, atau seleb kita pakai parfum, deodoran, gosok gigi, dan ngemut permen penyegar bau mulut, masak mau menghadap Tuhan penampilan kita seadanya?

Kalau pas keringetan, mbok ya dibersihin dulu. Kalau ketek basah kuyup, mbok ya dilap atau diangin-anginin. Kalau mulut bau pete, mbok ya dipakai ngunyah makanan apa gitu yang baunya nggak menusuk hidung, terus kumur-kumur pakai karbol.

3. Kebelet di tengah-tengah shalat

Ini namanya K-A-S-U-S. Saya beberapa kali mengalami, apalagi waktu kecil dulu. Pas berangkat ke langgar rasanya masih bisa ditahan, eh pas shalat jamaah sedang berlangsung perut tiba-tiba nggak bisa diajak musyawarah. Maksa ke belakang terus, sambil ngancam-ngancam.

Kalau udah kayak gini, jangankan khusyu’, ingat jumlah rakaat aja udah bagus. Yang lebih ngehe, bacaan atau gerakan imamnya lama. Imam Masjidil Haram aja kalah. Perasaan bacaan Al-Fatihah kita udah dari tadi selesai, eh bacaan imamnya kayak khataman Al-Quran 30 juz. Nggak kelar-kelar.

Kata ustadz-ustadz, shalat sambil ngempet itu makruh. Ya iyalah, bikin nggak fokus sama bacaan dan gerakan, apalagi sama Allah. Jadi, mulai sekarang beresin dulu deh urusan yang satu itu sebelum ngacir ke masjid. Bergegas itu baik, apalagi biar dapat shaf terdepan. Tapi, itu bisa jadi masalah kalau sesampai di masjid dan shalat jamaah tengah berlangsung, alam memanggil kita.

4. Ketuker sandal

Coba deh ingat-ingat, sejak pertama kali masuk masjid (mungkin saat anak-anak dulu) sampai sekarang, berapa kali kita ketuker sandal? Nggak terhitung?

Kalau ketuker sebenarnya mending. Yang lebih parah itu kehilangan. Mau pulang nyeker males, mau make sandal orang lain takut kegep kalau besoknya ke masjid lagi, “Jadi, kamu yang ngambil sandalku?!”

Bisa-bisa dibawa ke koramil kita…

1435-santri
Sumber foto: Brilio.net (https://goo.gl/WcVsGD)

Masalah sandal ketuker atau hilang ini sebenarnya klise. Kalau zaman Walisongo dulu mungkin nggak ada kasus beginian. Lha wong jamaahnya nggak ada yang pakai sandal (itu sebabnya di bagian depan masjid diberi kolam cetek buat cuci kaki, masih bisa kita temukan di masjid di desa-desa). Atau kalau ada, yang dipakai paling-paling bakiak.

Kasus sandal ketuker atau hilang biasanya karena tiga hal. Satu, orang yang ngambil sandal kita benar-benar khilaf, mungkin pikun atau rabun. Dua, orang yang ngambil sandal kita sengaja nuker atau ngambil, alias kriminil, atau residivis koramil. Tiga, orang yang ngambil sandal kita salah paham sama ceramahnya Aa Gym, “Ambil yang baik-baik, tinggalkan yang buruk-buruk.”

Pantes di rumahnya banyak sandal bagus-bagus…

5. Speaker terlalu kencang

Ini yang saya alami sampai sekarang. Di dekat kantor saya ada masjid yang speaker ruangannya seperti udah jebol dan nggak layak pakai. Celakanya, kalau jamaah Jumat udah berkumpul, azan dibunyikan keras-keras melalui speaker itu. Dan, saya menjadi orang pertama yang menutup telinga.

Azan itu tujuannya ‘kan memberitahu masyarakat bahwa waktu shalat udah masuk (dan shalat berjamaah akan segera didirikan). Karena zaman dulu nggak ada speaker, orang-orang mengumandangkan azan dengan suara yang lantang. Nggak cukup itu, mereka bahkan melakukannya di atas atap (bahkan naik menara), sambil menutup telinganya, dan memutar tubuhnya seturut arah mata angin.

Ketika speaker ditemukan, mengumandangkan azan menjadi lebih mudah. Orang cukup menyalakan tombol “ON”, dan panggilan Allah itu pun terdengar oleh orang yang berada di tempat jauh. Nggak perlu naik atap atau menara, nggak perlu menutup telinganya, dan nggak perlu memutar tubuhnya.

Nah pertanyaannya, kalau masyarakat itu udah ada di dalam masjid, udah wudhu dan siap mendengarkan khutbah, apa betul mereka perlu dikasih tahu, dengan volume speaker yang menggelegar, bahwa waktu shalat udah tiba?

Mereka memang perlu tahu bahwa waktu shalat udah tiba, sebab ada beberapa jamaah yang mengerjakan shalat qabliyah. Tapi, apa betul volume sound system-nya harus sekeras itu?

Sebenarnya masih banyak pengalaman sejenis yang bisa kita temukan saat berada di masjid. Tapi karena ini udah terlalu panjang, rasa-rasanya saya perlu mencukupkan sampai di sini dulu. Kapan-kapan disambung lagi.

Oh ya, apa yang saya tuliskan ini adalah pengalaman-pengalaman pribadi saya, yang nggak berarti bisa digeneralisir pada semua orang yang datang ke masjid. Yang paling penting, hal-hal menjengkelkan di atas nggak sedikit pun mengurangi kesucian masjid atau keutamaan ibadah orang-orang di dalamnya.